Rechercher dans ce blog

Tuesday, January 28, 2020

Fokus Pasar: Jasa dan Ritel 'Terpapar' Langsung Virus Corona - Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Virus Corona telah menjadi sumber ketidakpastian yang menjadi perhatian global saat ini, termasuk para pelaku pasar. Ketidakpastian semakin menjadi-jadi, karena virus ini terjadi di Tiongkok yang merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi global.

Efek dari virus Corona kian mengkhawatirkan hingga mempengaruhi penurunan beberapa indeks saham global, serta pasar obligasi. Sejauh ini, korban meninggal akibat virus ini sudah mencapai sekitar 80 orang. Tiongkok pun memperpanjang liburan tahun baru Imlek sebagai upaya untuk menahan infeksi penyebaran yang lebih luas.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang telah mengunjungi kota Wuhan untuk memastikan semua pasien yang terdampak virus Corona dirawat di rumah sakit. Director-General World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom juga langsung menuju Beijing untuk bertemu dengan Pemerintah Tiongkok guna membahas cara memperlambat penyebaran virus Corona.

Sementara itu, pihak berwenang di Tiongkok mengatakan bahwa virus Corona masih belum terkendali, meskipun ada beberapa langkah agresif untuk membatasi pergerakan masyarakat. Sejauh ini, sudah ada 2.744 kasus dan mungkin saja akan terus bertambah, dan sudah ada lebih dari 30 ribu orang sedang diperiksa secara seksama.

Akibat wabah virus Corona ini, saham-saham di Asia, minyak mentah, dan mata uang Tiongkok mengalami penurunan. Futures pada saham-saham Tiongkok telah turun sebesar 5%. Kekhawatiran terus tumbuh, ditambah dengan fakta bahwa penyakit ini memiliki masa waktu inkubasi selama 2 minggu, sehingga memungkinkan orang yang membawa virus tidak terdeteksi dan bisa menginfeksi orang lain.

“Kami melihat dampak dari virus Corona akan terus memburuk, jika tidak dicegah secepat mungkin, karena akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian Tiongkok. Sektor jasa dan ritel akan mendapatkan dampak yang besar terkait virus Corona ini. Apalagi, porsi jasa memberikan kontribusi sebesar 54% terhadap GDP Tiongkok,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Selasa (28/1).

Di dalam negeri, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pemerintah telah memperketat pengawasan di bandara untuk mendeteksi dan memantau penumpang yang datang, terutama dari negara-negara yang diperkirakan telah mengonfirmasi kehadiran virus baru ini. Langkah ini tentunya sebagai langkah preventif dalam mencegah penyebaran virus tersebut.

Pemerintah juga mengantisipasi barang impor dari Tiongkok dengan mengetatkannya. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, pengetatan tersebut dilakukan dengan pengawasan di pintu-pintu masuk barang impor seperti bandara dan pelabuhan. Pihaknya menerapkan biosekuriti di seluruh bandara dan pelabuhan di Indonesia, sehingga ia meminta masyarakat untuk tidak terlalu khawatir.

Beralih ke Amerika Serikat, pengacara Donald Trump mengatakan bahwa Partai Demokrat gagal membuktikan bukti-bukti yang dapat memakzulkan Donald Trump. Partai Demokrat meminta Presiden Trump untuk keluar dari kantornya, namun tidak ada bukti yang memadai.

Cipollone dan anggota tim Trump lainnya mengatakan bahwa mereka akan membantah poin demi poin dari kasus yang telah diajukan sebelumnya kepada Donald Trump.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post dan ABC-News mengungkapkan, 47% partisipan ingin Trump keluar dari kantornya, namun 49% justru membela Trump. “Sejauh ini masih bergulir, namun tidak memberikan impact yang berarti terhadap pergerakan pasar karena kami melihat hal ini hanyalah drama semata yang tidak semudah itu seorang Presiden akan pergi dari kantornya,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Sementara itu, Fitch Ratings mempertahankan peringkat sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil atau investment grade. Peringkat tersebut merupakan bentuk pengakuan lembaga internasional atas kondisi perekonomian Indonesia yang mampu bertahan di tengah dinamika perekonomian global.

Meski begitu, Fitch menggarisbawahi tantangan yang masih dihadapi Indonesia, yaitu masih tingginya ketergantungan terhadap sumber pembiayaan eksternal, penerimaan pemerintah yang rendah, serta indikator struktural seperti tata kelola dan PDB per kapita yang masih tertinggal dibandingkan negara peers rating.

Fitch memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap resilien pada beberapa tahun mendatang. Hal tersebut didukung berlanjutnya pembangunan infrastruktur publik dan agenda reformasi pada periode kedua Presiden Joko Widodo.

Sumber : Investor Daily

Berita Terkait

Let's block ads! (Why?)



"ritel" - Google Berita
January 28, 2020 at 10:21AM
https://ift.tt/37z8jub

Fokus Pasar: Jasa dan Ritel 'Terpapar' Langsung Virus Corona - Investor Daily
"ritel" - Google Berita
https://ift.tt/36sqiC4
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update

No comments:

Post a Comment

Search

Featured Post

Politics - The Boston Globe

unitedstatepolitics.blogspot.com Adblock test (Why?) "politic" - Google News February 01, 2024 at 03:47AM https://ift.tt...

Postingan Populer